Kamis, 31 Maret 2016

Hijab dalam Pandangan Tasawuf





 Mukaddimah
Hijab adalah salah satu masalah yang tidak asing dalam kehidupan manusia dan merupakan masalah pokok yang harus diperhatikan manusia selain kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan. Ketika manusia pertama yaitu Nabi Adam as dan Hawa as diciptakan oleh Allah swt[1] badan atau raga keduanya dalam keadaan berhijab atau mengenakan penutup aurat. Ungkapan kesempurnaan penciptaan Nabi Adam as dan Hawa as adalah berbarengan dengan kondisi mereka yang berpakaian/berhijab atau dengan kata lain hijab/pakaian merupakan nikmat Allah untuk manusia. Dan sebaliknya, ketelanjangan (di depan non muhrim) adalah tipu daya setan dan akan dibalas dengan azab Allah di hari kemudian.

Menyimak kisah hijab di sepanjang sejarah manusia akan mengantarkan kita kepada salah satu poin penting yang layak untuk direnungkan lebih dalam sehingga kita dapat melihat hikmah di balik hukum hijab yang telah Allah tetapkan dan kita mampu menjadi hamba sejati Tuhan yang Maha Esa, pencipta dan pemilik mutlak manusia serta sekalian alam dan tempat kembali yang abadi bagi manusia bahkan semua makhluk.[2]

Setiap muslim hendaknya hendaklah senantiasa mawas diri dan berharap cemas tentang bagaimana akhir kehidupannya kelak. Hendaknya ia selalu menghisab segala sesuatu yang telah dilakukannya berkaitan dengan apa-apa yang telah diperintahkan dan dilarang oleh Allah swt. Hal ini akan berguna dalam upaya memperbaiki prilakunya sehingga prilakunya sesuai dengan apa yang diridhai oleh Allah swt. Dengan demikian, manusia dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan harapannya bahwa ia akan masuk dalam golongan muflihuun (orang-orang yang beruntung).[3] Jika tidak demikian, maka manusia akan merugi.[4]

Dalam dunia Islam, irfan adalah sebuah cabang ilmu yang memiliki sejarah cukup panjang. Kandungan irfan pada hakikatnya adalah perjalanan tarbiah Islami yang dilakukan oleh Rasulullah saww dalam membimbing umat Islam menuju Allah swt.

Berbicara tentang hijab dalam pandangan irfan pada dasarnya membicarakan hijab dalam pandangan Islam karena hijab merupakan salah satu bentuk tarbiah Islam. Tarbiah Islam tanpa dibarengi irfan akan kehilangan esensinya sedangkan irfan tanpa dibarengi istidlal logis dan amal islami akan kehilangan kendali, akan jatuh terperosok dan jauh dari esensi Islam.

Dalam sejarah, istilah irfan dan tasawwuf mulai muncul pada akhir abad kedua Hijriah. Pada abad ketiga, irfan dan tasawwuf mulai menampakkan wajah barunya.[5] Di sini kita tidak akan membahas kemunculan irfan sebagai cabang ilmu tersendiri secara kronologis dan bagaimana irfan terbagi menjadi irfan teoritis dan irfan praktis tetapi kita akan membahas sisi irfani hijab sebagai salah satu aturan syariat Islam. Namun sebelum memasuki pembahasan, kita terlebih dahulu akan membahas beberapa topik di bawah ini:
  1. Apakah hijab?
  2. Bagaimanakah pensyariatan hijab dalam Islam?
  3. Bagaimanakah hijab yang diperintahkan oleh Allah swt sebagai sebuah taklif syar’i yang wajib ditaati pemeluk agama Islam?

Hijab
Pemahaman keirfanan dalam berbagai perihal ajaran agama yang kurang membudaya, atau paling tidak, kurang mendalam dan merata di kalangan sebagian besar umat Islam membuat umat kehilangan ruh ajaran agamanya. Sebagai contoh: shalat. Banyak kaum muslim yang melakukan shalat tanpa memperhatikan muatan maknawi shalat[6] sehingga shalat mereka mirip dengan unggas yang sedang mematuk biji-bijian yang berserakan di atas sajadah, hampa bahkan melelahkan. Hingga tidak jarang anak-anak berusaha meninggalkan shalat bahkan lebih jauh lagi berlari tunggang langgang menjauhi Islam dan memasuki agama selundupan yang akan menggiringnya ke dalam jurang kesesatan. Atau bisa saja ia lari dari semua agama sehingga ia bisa hidup bebas layaknya binatang dan bisa memenuhi segala hawa nafsunya, menerkam mangsanya di mana saja dan kapan saja demi memenuhi berbagai kebutuhan hewaninya yang bersifat temporal.[7]

Shalat adalah salah satu perkara Islam yang karena tidak ditunaikan sesuai dengan keinginan Allah swt, umat Islam tidak dapat meraih berbagai nikmat besar yang ada di dalam shalat dan pada akhirnya hasil akhir dari shalat tidak bisa diraih. Lebih tragis lagi, sebagian kalangan sengaja meninggalkan shalat dan mereka tidak sadar bahwa dengan meninggalkan shalat mereka telah menyiapkan dirinya sebagai bahan bakar api neraka yang apinya tidak hanya menyala di hari kiamat saja tetapi telah menyala dalam kehidupan dunia sedang mereka akan tersulut dalam api tersebut dan terbakarlah segala nilai kemanusiaannya.[8]

Sungguh sayang, shalat yang ditetapkan oleh Islam sebagai salah satu anak tangga peribadatan kepada Sang Maha Sempurna, yang semestinya membuat kita rindu untuk menunaikannya dan kita dirikan dengan penuh rasa suka, tidak meninggalkan kelezatan sukma sedikitpun sehingga kita bisa mengarungi cakrawala makrifat ilahi yang pada akhirnya akan menciptakan semangat dan tekad untuk menjadi anggota umat terbaik, penegak amar ma’ruf, pencegah kemungkaran dan penyebar rahmat dan penabur benih kedamaian dan keadilan di seluruh dunia.[9] Jika shalat telah dilakukan sesuai dengan keinginan Allah swt, jangankan meninggalkannya, terlambat menunaikannya saja mampu membuat hati menjadi gemetar dan risau. Tubuh dan ruh akan terhuyung-huyung untuk segera merintih atas kelalaian dirinya, hati dan mulutnya akan meraung memanggil-manggil Tuhannya.[10] “Wahai Tuhanku! Wahai Tuhannya Ashabul Kahfi! Wahai Tuhannya Ashabul-Kisa’ Fathimatuzzahra wa abiha wa ba’liha wa siril mustaudaufiha alahimissalam. Hamba-Mu yang hina, rendah, miskin, bodoh dan pembangkang ini, selalu lalai dan tertipu oleh fenomena rapuh selain-Mu. Tetapi kerinduanku akan diri-Mu yang memiliki segala kesempurnaan menjadikan diri ini selalu terkesima dan gembira menjalani dan menekuni titah dan perintah-Mu. Tetapi saat itu juga kemampuan dan kesadaranku lumpuh. Aku hanya tertegun dan batinku hanya mampu menyebutkan beberapa nama dari nama-nama agung-Mu. Ya qudduus, ya dzal-jalaali wal-ikraam, ya muqalibal-quluub wal abshaar, tsabbit qalbį alaa diįnik wa tho’atik. Allahu Akbar…”

Demikianlah contoh kondisi jiwa seorang muslim yang terpaut pada makna spiritual sholat. Jiwa yang dipenuhi makrifat tentang titah dan perintah Tuhannya akan memiliki ruh semacam itu. Kondisi yang sama juga akan dirasakan berkaitan dengan perintah agama lainnya, misalnya saja hijab. Kondisi jiwa yang memiliki kepekaan spritual atau makrifat hakiki tentang Tuhan, tugas dan akibat dari segala prilaku disebut dengan kondisi irfani jiwa manusia.

Perlu diperhatikan bahwa setiap elemen ajaran Islam yang ada dalam tiga cabang besar akidah, akhlak dan fiqih harus memuat nilai-nilai irfan agar dapat dicapai nilai tertinggi dalam tataran prakteknya. Artinya, setiap muslim harus mengenal dan paham tentang kedalaman muatan maknawi serta bekas-bekas yang terbias di dalam setiap ajaran Islam yang di dalam irfan disebut dengan mukasyafah, musyahadah dan pengindraan batin. Seorang muslim semestinya mampu mencapai kedudukan sebagai seorang arif yang melaksanakan ibadahnya atas dasar cinta dan pesona Sang Jalal wa Jamal, ilahi rabbil ‘alamiin. Kalau seorang muslim tidak mampu mencapai kedudukan tersebut maka prilakunya akan sesuai dengan kondisi jiwa yang dimilikinya ketika melaksanakan ajaran Islam. Oleh karena itu, kita dapat melihat posisi kita di sisi Allah swt melalui kondisi jiwa kita sendiri.

Setiap ajaran Islam seperti perintah mendirikan sholat dan puasa, membayar zakat dan khumus, menunaikan ibadah haji, berhijab, jihad fi sabillillah, mempertahankan agama, harta dan kehormatan, amar ma’ruf dan nahyi mungkar, tawalli dan tabarri, menuntut ilmu agama tak ubahnya seperti anak-anak tangga yang jika dinaiki satu persatu dengan tepat akan menghantarkan seseorang pada peringkat spritual berikutnya yang lebih tinggi hingga mencapai puncak ketinggian maknawi yaitu berada di sisi Allah swt yang memiliki segala kesempurnaan.

Sebagian manusia, seperti para Makshumin as, mendapatkan ketinggian maknawi ini sebagai amugrah langsung dari Allah swt. Anugrah ini memang layak dimiliki oleh beliau-beliau, mengingat tugas berat dan suci yang berada di pundak mereka. Sedangkan manusia lainnya harus mengikuti jejak mereka sehingga dapat dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mentaati perintah Allah swt. Manusia juga harus mengenal hakikat dirinya karena dengan mengenal dirinya ia akan mengenal Tuhannya. Dari sinilah ia dapat memulai kehidupan irfaninya sampai ia dapat masuk dalam kelompok urafa dan arif rabbani.[11]

Irfan
Kata irfan berasal dari bahasa Arab عِرفان (pengetahuan yang banyak) yang merupakan sifat musyabbahah berwazan fi’laan(فِعلان) [12] dan memiliki arti yang sama dengan kata ilmu (العلم).[13] Lafaz عرف memiliki 27 buah mustaqat (turunan kata) dan telah disebutkan sebanyak 71 kali di dalam al-Qur’an.[14] Sedangkan arif (jamaknya adalah urafaa) adalah isim faa’il dari kata kerja arafa.

Kata irfan sebanding dengan kata mystic dan metodenya disebut dengan mystisism/mistisisme. Kata mystic berasal dari bahasa Yunani yaitu mistikos yang berarti perkara yang tersembunyi sedang dalam istilah berarti hubungan langsung pribadi dengan Tuhan alam semesta melalui jalan syuhudi/penginderaan dan pengalaman spiritual batin atau melalui jalan lain yang dapat memberikan hasil. Dengan kata lain, irfan adalah suatu jalan berupa kepercayaan akan adanya kemungkinan untuk mencapai hakikat sesuatu melalaui ilmu hudhuri (bersatunya sang aqil dengan ma’qul). Secara praktis, irfan dapat diibaratkan sebagai peribadatan, mujahidah atau kemauan keras untuk menjalani kezuhudan, latihan menyucikan diri dari segala kotoran atau dosa yang ada dan mengarahkan diri kepada alam batin.[15]

Mungkin sulit bagi kita untuk mengetahui kapan istilah irfan mulai digunakan di kalangan ulama Islam,[16] tetapi dengan memperhatikan pendapat Junaid Baghdadi (wafat thn. 298 Hijriah) yang menyatakan bahwa kata irfan pernah digunakan sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kata irfan mulai digunakan pada abad ketiga hijriah.

Pada mulanya, mafhum irfan, ibadah dan zuhud belum mengalami perbedaan makna. Namun secara perlahan-lahan, terjadi perbedaan makna antara ketiga kata ini. Setiap kata arif, abid dan zahid memiliki makna khusus dan tersendiri. Berkaitan dengan perbedaan antara ketiga kata ini, dalam kitabnya Isyarat, Syaikh Ra’is Abu Ali Sina berkata: “Zahid adalah istilah khusus bagi orang yang menghindari dunia dan kelezatan-kelezatannya. Orang yang menjaga dan selalu mawas diri dalam menekuni amal shaleh seperti sholat, puasa dan lainnya disebut abid. Sedangkan orang yang berusaha keras dan mengerahkan segala kemampuan dan pikirannya untuk menyucikan diri dan selalu berlindung pada kebenaran disebut arif. Namun ketiga istilah ini terkadang dapat saling menyatu.” Dengan demikian, makna irfan telah berubah seiring dengan perjalanan waktu. Terkadang irfan memiliki makna tersendiri dan terkadang semakna dengan tasawuf.

Harus diperhatikan bahwa tasawuf merupakan salah satu mishdaq dan cabang dari irfan, bukan keseluruhan irfan. Irfan dengan makna umumnya mempunyai kesesuaian makna dengan seluruh makna agama dan mazhab yang ada di dunia, baik kecil maupun besar, yang memiliki bentuk beraneka ragam. Bahkan para penyembah Totem pun memiliki rahasia dalam kepercayaannya yang untuk meraihnya mereka harus menempuh jalan rohani. Mereka yakin bahwa alam memiliki hubungan dengan Totem sehingga mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengannya. Dalam tafakkur mereka, dapat dilihat asas-asas irfan di dalamnya. Demikian juga dalam agama-agama kuno India dan Iran, dalam agama Kristen dan Islam, dapat disaksikan hakikat irfan di dalamnya. Bahkan dalam agama Yahudi sekalipun—yang memiliki akidah paling berbeda tentang Tuhan dan memiliki dendam kesumat terhadap manusia—tidak kosong dari hakikat irfani. Hal ini dapat dilihat dalam kitab suci mereka Mazamir Daud, Ghazal Sulaiman serta ungkapan–ungkapan indah mereka yang berasal dari syuhud batin dan jiwa manusia dalam mencari dan mencintai Tuhan.[17]

Jika kita katakan bahwa irfan bukanlah sinonim dari kata tasawuf maka ini berarti bahwa irfan mempunyai arti lebih tinggi dan luas dari kata tasawuf. Tasawuf adalah satu cara dan jalan yang mengambil ilham dari irfan dan bermuara ke irfan. Dengan mafhum globalnya, irfan mencakup tasawuf dan berbagai tatacara serta jalan yang lain. Dalam kitab-kitab dan ungkapan-ungkapan para pembesar sufi Islam juga terlihat bahwa arif memiliki makna yang lebih tinggi dan terpisah dari pengertian sufi. Dalam kitab Israr Tauhid, Haji Imam Mudzafar Nu’ani berkata kepada Syekh Abu Sa’id: “Aku tidak berbicara tentang kesufianmu dan aku juga tidak berbicara tentang kegembelanmu, tetapi aku berbicara tentang kearifanmu dalam rangka meraih kesempurnaan”. Syekh menjawab: “Dia berkata benar”. Singkatnya, yang dimaksud dengan irfan adalah cara dan jalan yang dengannya hakikat dapat diperoleh melalui penyingkapan (kasyaf) dan penyaksian batin (syuhud) dan dibarengi dengan pelatihan dan penyucian jiwa. Sedangkan yang menjadi tujuan arif dalam menjalani seir dan suluk hanyalah Allah semata. Sang arif menyembah Tuhan atas dasar cinta, bukan karena berharap pahala dan ganjaran surga-Nya dan bukan pula karena takut akan azab dan neraka-Nya.[18]
Penyair berkata:
Perjalanan akal hanyalah liku-liku
Bagi arif, tiada yang lain kecuali Tuhan

Di sinilah perbedaan antara arif dan hakim. Seorang hakim (bijak) akan menggunakan argumen/istidlal logis dalam menyingkap hakekat dan meraih kebenaran. Tetapi seorang arif akan meraihnya melalui pelatihan dan pembersihan jiwa. Batinnya akan jernih sehingga ia dapat menyingkap hakikat itu (kasyaf) dan menyaksikannya sendiri (syuhud). Itulah sebabnya mengapa dalam pertemuan dengan Abu Said (seorang arif), Abu Ali Sina (seorang filosof) berkata: “Apa yang kuketahui, Ia melihatnya.” Sedangkan Abu Said berkata: “Apa yang kulihat, Ia mengetahuinya.”[19]

Berbekal ilmu yang telah dicapainya melalui istidlal akli, latihan-latihan yang dilakukannya dalam rangka menyucikan ruh, perhatian total kepada al-Haq dan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur keagamaan, maka sang arif akan mendapatkan Sang Haq dengan cahaya bashirat. Dengan demikian, ia telah mencapai posisi yang telah disebutkan dalam hadis Maksumin as berikut: ” Al-ilmu nurun, yaqzdifuhullahu fi qalbi man yasya[20] dan setiap saat ia akan melihat dengan mata bashirat dan cahaya hakekat. Istidlal akli mungkin dapat memuaskan sebagian kalangan, tetapi ia tidak dapat memberikan ketenangan batin. Satu-satunya jalan yang dapat menenangkan dan meyakinkan hati adalah jalan percintaan dengan Tuhan.[21]

Hijab[22] dalam Pandangan Irfan
Membahas masalah hijab dalam pandangan irfan—setelah mengenal terlebih dahulu apa hijab dan irfan—akan membuat kita lebih mudah memahami pembahasan hijab dalam pandangan irfan. Tentunya hal ini berkaitan dengan dua pembahasan karena irfan sendiri terdiri dari irfan teori/nadzari dan irfan praktis/amali.

Pembahasan irfan teori adalah pembahasan tentang kaidah-kaidah irfan yang akan diterapkan oleh seorang arif ketika ia menjalani seir wa suluk. Sedangkan irfan amali adalah pelaksanaan kaidah-kaidah irfan dalam bentuk amal perbuatan oleh seorang arif. Maka pembahasan hijab dalam pandangan irfan akan terdiri dari dua pembahasan. Pembahasan pertama; pembahasan hijab dalam irfan teori dan kedua; pembahasan hijab amali dalam pandangan seorang arif.

Pembahasan teoritis hijab dalam pandangan irfan berarti membicarakan hijab berdasarkan kaidah teoritis irfan. Sedangkan pembahasan amali hijab dalam pandangan arif atau arifah berarti membicarakan hijab secara praktis yang dilakukan oleh seorang arif. Hal ini seiring dengan pemahaman kita tentang Islam yang selalu bertumpu pada dua hal yaitu akidah dan amal. Dan karena hakikat irfan sebenarnya adalah hakikat Islam itu sendiri, maka seluruh ajaran yang merupakan akidah atau prinsip kepercayaan adalah irfan teori itu sendiri. Dan semua amal atau praktek islami yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan harus ditaati oleh setiap muslim mukallaf adalah irfan amali itu sendiri.

Ketika ketaatan yang dilakukan oleh seorang muslim dibandingkan dengan muslim lainnya, maka sudah pasti nilainya akan berbeda karena kondisi mereka yang memang berbeda. Di sinilah kunci perbedaan derajat ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin yang akhirnya meniscayakan adanya perbedaan maqam sesuai dengan tujuan dan niat mereka dalam melaksanakan ibadah. Para Makshumin as, jauh-jauh hari telah mengisyaratkan jenis-jenis ibadah yang dilakukan oleh hamba Allah dengan membaginya dalam tiga golongan: golongan pertama adalah mereka yang menyembah Allah karena takut dan ibadah mereka disebut sebagai ibadah budak. Golongan kedua adalah mereka yang menyembah Allah untuk mendapatkan surga atau ganjaran dan ibadah mereka disebut sebagai ibadah pedagang. Sedang golongan ketiga adalah mereka yang menyembah Allah atas dasar cinta dan kerinduan kepada Allah sehingga ibadah yang mereka lakukan disebut sebagai ibadah orang-orang merdeka dan inilah ibadah yang paling baik di sisi Allah swt.[23] Para arif melakukan ibadah kepada Allah atas dasar cinta sehingga yang ada di antara mereka hanyalah asyiq(pecinta) dan ma’syuq (yang dicintai).

Pembahasan Hijab dalam Irfan Teori
Ketika mengamalkan perintah Allah—baik dalam hal mengenakan hijab islami—setelah seorang muslim memenuhi syarat-syarat dan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam, maka ia harus mengingat prinsip-prinsip irfan nazari berikut ini:

  1. Dunia hanyalah bersifat sementara dan akhirat adalah kehidupan yang abadi.
  2. Akhirat adalah tempat yang berbahagia bagi kaum beriman dan bencana bagi orang-orang kafir. Kebahagiaan abadi akhirat diperuntukkan bagi mereka yang mencintai Allah dan tidak menambatkan hatinya pada kelezatan dunia yang rendah.
  3. Kehidupan dunia harus dijalani dengan sikap zuhud dan menghindari segala perbuatan dosa. Dosa dan kemaksiatan harus dilihat sebagai api jahanam yang sedang berkobar-kobar sedang manusia adalah kayu bakarnya.
  4. Amal shaleh di dunia adalah penyebab keridhaan Allah swt.
  5. Segala sesuatu selain Allah adalah kecil dan tak berarti, hanya Allah yang maha besar.
  6. Menciptakan dan memelihara kondisi yang dikenal dengan sebutan 10 ahwal yaitu: berhati-hati, taqarrub ilallah, cinta, takut, berharap, semangat, setia, ketenangan, bersaksi, dan yakin. Kesepuluh hal ini berguna dalam rangka mencapai al-Haq, tauhid mutlak dan kefanaan dalam al-Haq.
  7. Adapun maqam-maqam yang akan dilalui oleh seorang arif terdiri dari tujuh maqam yaitu: taubat, wara’, hidup dengan sederhana, zuhud, faqr, sabar, tawakal dan ridha.[24]

Hijab dalam Irfan Praktis
Seorang muslim dan muslimah yang arif akan mentaati Allah dalam kondisi bercinta[25] dengan-Nya dan tujuan mereka hanyalah kecintaan dan keridhoan Allah semata. Oleh karena itu, dalam doanya para Makshumin as berkata: “Wahai Tuhanku, seandainya Engkau memasukkan aku ke dalam neraka tetapi bersama cinta dan keridhaan-Mu maka aku rela dan tidak gentar menjalani siksaannya. Dan sebaliknya, jika Engkau memasukkan aku ke dalam surga bersama ketidakridhaan-Mu, maka apa arti kenikmatan surga bersama kebencian dan kemarahan-Mu, pastilah aku akan merasa tersiksa karena jauh dari cinta dan keridhaan-Mu.”
Ketika hijab diterima sebagai sebuah perintah dalam agama Islam, maka saat mengamalkannya, seorang muslim atau muslimah yang arif hendaknya memiliki pengetahuan yang menyatu dengan keyakinannya bahwa hijab adalah salah satu ajaran yang memiliki kredebilitas hukum yang kuat, wajib ditaati dan merupakan salah satu sarana untuk mencapai keridhaan Allah swt. Di saat itulah, ia tidak akan merasa terbebani dengan hijab bahkan lebih jauh dari itu ia akan menyambut seruan berhijab dengan suka cita karena ia melihat bahwa dengan berhijab ia akan dicintai Allah dan ia juga tengah mencintai Allah dengan hijab yang dikenakannya.

Semakin kuat ia menjaga cintanya kepada Allah maka ia akan semakin berhati-hati menjaga hijab dirinya dari segala sesuatu yang dapat meruntuhkan nilai iffah dan kehormatan dirinya di hadapan Allah. Ia akan menyadari bahwa hijab adalah salah satu penggalan cintanya kepada Allah dan merupakan jalan untuk meraih cinta Allah. Jadi prilaku arif dalam setiap amalannya selalu didasari oleh niat menggapai cinta Allah dan didorong oleh perasaan cinta kepada Allah yang menggelora di dalam jiwanya.

Sebagaimana cinta menuntut bukti dan realisasi, maka cinta kepada Allah pun menuntut hal yang sama berupa ketaatan atas segala perintah dan larangan Allah. Sedangkan ketaatan sendiri merupakan salah satu jalan untuk menggapai cinta Allah dan merupakan sarana untuk menunjukkan cinta seorang hamba kepada maulanya, yaitu Allah swt. Maka hijab bagi seorang arif adalah salah satu urat nadi kehidupan cintanya yang mengalirkan kesabaran dan semangat ke seluruh jiwa dan raganya untuk menjalani kehidupan sebagai hamba shaleh Allah swt. Ketika seorang arif telah memandang hijab sedemikian rupa, maka ia akan menjaga segala syarat dan batasan yang telah ditetapkan oleh Kekasih sejatinya. Ia akan berusaha sesempurna mungkin menjaga dan mempertahankan hijabnya dari segala bentuk pengurangan atau pelecehan, baik yang datang dari dirinya sendiri akibat sikap lalai dan lupa atau yang datang dari pihak di luar dirinya. Tentu saja tidak mungkin pengurangan atau pelecahan itu dilakukan oleh sang arif karena jika ia melakukannya maka ia tidak pantas lagi disebut sebagai arif. Yang mungkin terjadi adalah pelecehan hijab dari luar dan ketika hal itu terjadi maka sang arif pasti akan dengan bersemangat membela dan mempertahankan kesucian hijab sebagai salah satu nilai agung Allah, meskipun pembelaan yang dilakukannya akan berakhir dengan kesyahidan. Wassalamu ‘alaa manit taba’al huda….
Pada akhir tulisan ini mari kita berdoa sebagaimana yang telah diajarkan oleh para Makshum as, para penunjuk jalan menuju Allah swt:

اَللهُمَّ عَرِّفنِی نَفسَکَ فَإنَّکَ إِن لَم تُعَرّفنِی نَفسَکَ لَم اَعرِف رَسُولَکَ ، اَللهُمَّ عَرِّفنِی رَسُولَکَ فَإِن لَم تُعَرِّفنِی رَسُولَکَ لَم اَعرِف حُجَّتَکَ، اَللهُمَّ عَرِّفنِی حُجَّتَکَ فَإِن لَم تُعَرِّفنِی حُجَّتَکَ ضَلَلتُ عَن دِینِی!

“Ya Allah! Kenalkan diri-Mu kepadaku. Jika Engkau tidak mengenalkan diri-Mu kepadaku, maka aku tidak akan dapat mengenal Nabi-Mu. Ya Allah! Kenalkan Rasul-Mu kepadaku. Jika Engkau tidak mengenalkan Rasul-Mu kepadaku, maka aku tidak akan dapat mengenal Hujjah-Mu. Ya Allah! Kenalkan Hujjah-Mu kepadaku. Jika Engkau tidak mengenalkan Hujjah-Mu kepadaku, maka akan sesatlah aku dari agamaku”.[26] [islamalternatif.net]




[1] Surah as-Shad: 71 – 73, Surah al-A’raf 27:” Wahai anak-anak Adam! Janganlah sekali-kali kalian tertipu oleh syetan sebagaimana ia telah (menipu kedua orangtua kalian sehingga) kedua orangtua kalian keluar dari surga, ia menanggalkan pakaian keduanya, untuk diperlihatkannya aurat keduanya…”.
[2] Surah al-Imran: 109.
[3] Surah al-Hasyr: 9.
[4] Surah al-Asr:1-3. “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman dan beramal sholeh, saling berpesan dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran”.
[5] Lihat artikel ” Relasi antara Irfan Teoritis dan Irfan Praktis” karya Muchtar Luthfi yang dimuat dalam www.islamalternatif.net pada hari Minggu, 27 Agustus 2006.
[6] Surah ar-Rum: 7.
[7] Surah Maryam: 59.
[8] Surah al-Mudatsir: 43, al-Maun: 5 dan at-Taubah: 54.
[9] Surah al-Ankabut 45, al-Mu’minuun: 2.
[10] Surah a-Mu’minuun: 9, al-Maarij: 22.
[11] Sebagaimana disebut dalam hadis masyhur:” Siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.”
[12] Muhammad Reza Thabathaba’i, Sharf Sadeh, hal: 218.
[13] Lisanul Arab, jilid 4, hal. 309, cetakan Darusshadir, Beirut.
[14] Muhammad Reza Thabathaba’i, Sharf Sadeh, hal: 218.
[15] Doktor Zeinuddin Kiyai Nezad, Seir-e Irfan Dar- Islam, Intisyarot-e Isyroqi.
[16] Maka timbullah berbagai pandangan berbeda tentang sejarah irfan/tasawuf Islam. Sebagian kalangan menyatakan bahwa tasawuf Islam adalah tasawuf independen yang berfondasikan al-Quran dan sunnah Rasulullah saww dan benar-benar terjaga dari pengaruh fikiran luar. Kehidupan irfani umat Islam dapat ditilik sejak awal abad pertama hijriah dan mengalami berbagai perkembangan pada abad-abad berikutnya. Seandainya pun terdapat kesamaan antara tasawuf Islami dengan pandangan irfani/mistisisme agama lain, hal ini tidak bisa menjadi dalil bahwa tasawuf Islam lahir dari pemikiran zuhudi dan irfani agama lain. Yang pasti adalah bahwa agama Islam memang mempunyai warna dan benih-benih tasawuf. Ada beberapa pandangan lain berkenaan sejarah kemunculan irfan/tasawuf dalam Islam yang tidak mungkin untuk dibahas di sini. Yang penting diingat adalah bahwa pernyataan mereka yang menganggap bahwa irfan/tasawuf Islam merupakan perkara asing bagi agama Islam itu sendiri, adalah sebuah pernyataan yang dapat disanggah secara rasional.
[17] Doktor Zeinuddin Kiyai Nezad, Seir-e Irfan Dar- Islam, Intisyarot-e Isyroqi.
[18] Ibid.
[19] Ibid.
[20] “Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan oleh Allah ke dalam hati siapa saja yang Ia kehendaki.”
[21] Doktor Zeinuddin Kiyai Nezad, Seir-e Irfan Dar- Islam, Intisyarot-e Isyroqi.
[22] Hijab yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pakaian dan terjaganya iffah (kemuliaan) sebagai sebuah syariat Islam yang wajib dikenakan dan dijaga oleh wanita dan pria muslim. Dalam kajian irfan nadzari, hijab berarti penghalang-penghalang bagi para urafa’ ketika menjalani seir wa suluk menuju Tuhannya. Hijab ini terbagi hijab nurani/cahaya seperti ilmu dan amal shaleh yang terkadang bisa menjadi hijab bagi urafa’ untuk menuju Tuhannya dan hijab zulmani/kebodohan dan dosa-dosa/maksiat. Tentunya kedua hijab haru ditanggalkan supaya terjadi mukasyafah.
[23] Perlu diingat bahwa prinsip-prinsip irfan nazdari yang dikemukakan di sini hanya sebagai contoh saja, tidak mencakup semuanya dan hanya bersifat pengenalan karena keterbatasan situasi dan kondisi.
[24] Setiap prinsip atau kaidah teoritis Irfan membutuhkan penjelasan tersendiri dan dalam kesempatan ini tidak mungkin untuk membahasnya karena situasi dan kondisi tidak mengizinkan.
[25] Percintaan dengan seluruh sifat-sifatnya yang dimaksud di sini akan berbeda dengan percintaan yang terjadi antara sesama hamba karena dalam percintaan sesama hamba, pecinta dan yang dicinta adalah makhluk yang mengemban berbagai nilai material dan kemanusiaan. Sedangkan percintaan yang terjadi dalam teori irfan adalah percintaan antara hamba dan maulanya yang tidak memiliki sifat-sifat materi sedikit pun. Jadi percintaan ini akan sangat berbeda dan tidak bisa disamakan dengan percintaan yang antara dua materi.
[26] Doa ini berasal dari Imam Shadiq as yang diriwayatkan oleh Zuroreh dan dinukil oleh almarhum Kulaini, Syekh Thusi dan Nu’mani, penulis kitab al-Gaibah.

KEBENARAN





Dalam hidup ini manusia senantiasa bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan praktis. Apa sesungguhnya hakikat dari kehidupan? Apakah kehidupan ini memiliki awal dan akhir? Dari mana manusia berasal? Untuk apa ia hidup? Dan akan kemana ia setelah kehidupan di dunia ini?. Beberapa pertanyaan ini hanyalah contoh dari beberapa pertanyaan filosofis yang sering diajukan oleh manusia.
Namun disamping pertanyaan filosofis, manusia juga senantiasa berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan praktis yang bersinggungan langsung dengan kehidupan kesehariannya. Bagaimanakah saya harus menjalani hidup? Bagaimanakah saya harus membina keluarga saya? Bagaimanakah saya harus membina masyarakat saya? Bagaimanakah saya harus menata kehidupan mereka?. Ini adalah beberapa contoh pertanyaan praktis.
Jawaban yang dihasilkan terhadap pertanyaan filosofis akan menghasilkan pandangan dunia (world view). Sedangkan jawaban atas pertanyaan praktis akan menghasilkan sebuah ideologi. Ada beragam ideologi dan pandangan dunia yang dikemukakan oleh para filosof. Setiap ideologi tentunya dibangun atas dasar telaah rasional yang bersifat sistematis, mendasar, dan mendalam. Dan setiap ideologi akan senantiasa diperjuangkan atas dasar keyakinan akan kebenaran yang terkandung dalam ideologi tersebut.
Namun tidak jarang ada pemikir dan filosof yang memandang ideologi dalam kacamata relativisme. Friedrich Wilhelm Nietzsche ’sang pembunuh tuhan’ misalnya mengatakan, ”Truths are illusions that we have forgotten are illusions…”. Dalam pandangan Nietzche kebenaran hanyalah serpihan dari hakikat realitas. Kebenaran yang dipahami manusia senantiasa bersifat parsial, relatif, partikular, dan subjektif. Maka tak heran jika dalam karya-karyanya Nietzche selalu membantai habis setiap keyakinan dan nilai yang berkembang dalam filsafat tradisional seraya meyakinkan setiap orang bahwa filsafat yang dianutnya salah, lalu dengan enak berkata, “Be a man do not follow me—but yourself”. Pandangan-pandangan Nitzsche inilah yang kemudian mengilhami lahirnya wacana pemikiran filsafat postmodernisme yang akhir-akhir ini ramai diperbincangan oleh banyak kalangan.
Berdasarkan paparan di atas, ada beberapa petanyaan mendasar yang mesti dijawab. Mungkinkah manusia memperoleh kebenaran yang bersifat absolut? Jika iya, dengan sarana apa ia dapat menemukannya? Dan apa  kriteria dari sebuah kebenaran?
Dalam sejarah pemikiran filsafat pra-socrates pernah muncul sebuah aliran pemikiran filsafat yang meragukan kebenaran segala sesuatu. Aliran pemikiran filsafat ini dikenal dengan nama sofisme. Menurut kelompok ini, manusia tidak mungkin dapat memperoleh pengetahuan atau kebenaran. Beberapa tokoh sentral dalam aliran ini adalah Xenophanes, Heraclitus, Protagoras, dan Georgias. Bertrand Russel dalam bukunya yang berjudul History of Western Philosophy mengutip salah satu doktrin Protagoras, yang menurutnya merupakan tokoh terpenting dalam mazhab sofisme. Protagoras mengajarkan bahwa, “Manusia adalah ukuran segalanya, jika manusia menganggapnya demikian maka demikianlah adanya, dan jika tak demikian maka tak demikian pula”. Mengenai eksistensi para dewa Protagoras menuliskan dalam bukunya yang berjudul On the Gods, “Perihal dewa-dewa, saya tak tahu apakah mereka ada atau tak ada, dan seperti apa wujud mereka; sebab ada banyak hal yang mengelak dari pengetahuan yang pasti, ketidakjelasan persoalan dan singkatnya hidup manusia”.
Tradisi pemikiran sofisme ini juga pernah menjangkiti pemikiran sebagian filosof muslim. Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud dalam buku yang ditulisnya, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas, mengutip pembagian Al Attas atas mazhab sofisme yang berkembang pada kelompok filosof muslim. Pertama adalah kelompok gnostik. Kelompok ini senantiasa skeptis dengan eksistensi segala sesuatu sehingga menolak posibilitas ilmu pengetahuan. Kedua adalah kelompok subjektifis. Kelompok ini menerima posibilitas ilmu pengetahuan, hanya saja kelompok ini menolak sifat objektifitas dari ilmu pengetahuan dan kebenaran. Kelompok terakhir adalah kelompok yang paling ekstrim di antara mazhab sofisme. Kelompok ini sama sekali tidak meyakini eksistensi realitas. Bagi mereka realitas tidak lain hanyalah sebentuk fantasi atau khayalan semu dari manusia.
Menanggapi tantangan yang muncul dari kelompok sofisme ini, Murtadha Muthahhari memberikan jawaban yang cukup cerdas dan menohok. Intinya saat mengalami keraguan kaum sofis sebenarnya tidak dapat mengelak dari satu hal, bahwa pada saat itu mereka sedang meyakini keraguan yang mereka alami. Dengan kata lain, pada saat mengalami keraguan kaum sofis sebetulnya sedang ’mengalami’ kebenaran dan keyakinan itu sendiri. Dan keyakinan semacam ini bersifat absolut. Sehingga pada hakikatnya manusia dapat meraih pengetahuan dan kebenaran yang bersifat absolut.
Namun harus diakui bahwa tidak semua jenis pengetahuan memiliki derajat kebenaran yang sampai pada tingkat mutlak. Ada hal-hal tertentu yang masih bersifat relatif dan terbuka untuk diperdebatkan. Kebenaran dalam teori-teori sains misalnya hanya dapat dibenarkan selama belum ada teori baru yang membatalkan teori-teori sebelumnya. Pada abad pertengahan, bumi diyakini sebagai pusat dari alam semesta (geosentrisme). Tetapi temuan Galileo Galilei lalu datang dengan membantah teori geosentrisme yang diyakini oleh gereja pada abad pertengahan ini. Galileo mengatakan bahwa mataharilah yang merupakan pusat dari alam semesta (heliosentrisme). Lalu adakah manusia saat ini yang mampu memastikan ketiadaan pusat lain alam semesta dimana matahari sekalipun berotasi mengelilinginya? Oleh karena itu manusia harus bijaksana untuk mengakui keabsolutan (qathiyyah) beberapa jenis pengetahuan dan relativitas (dzanniyyah) dalam sebagaian pengetahuan yang lain.
Lanjut pada pertanyaan kedua, dengan sarana apa manusia dapat menemukan kebenaran? Dalam kajian epistemologi sekuler terdapat 3 jenis sarana pengetahuan yakni: indera, rasio, dan intuisi. Namun dalam tradisi epistemologi Islam wahyu—khabar shadiq (Al Qur’an dan As-Sunnah)— juga diakui sebagai salah satu sumber pengetahuan. Dengan keempat sarana inilah manusia dapat menemukan kebenaran.
Meskipun demikian, dalam tiap sarana pengetahuan ini masih dimungkinkan terdapat ketidakpastian kebenaran dari pengetahuan yang dihasilkannya. Sebuah pena yang dimasukkan ke dalam air akan terlihat bengkok oleh indera penglihatan. Bintang yang disaksikan pada malam hari akan selalu terlihat kecil oleh mata kita. Namun bukti perhitungan geometri ternyata membuktikan kesalahan indera penglihatan manusia. Namun pada sisi lain pengetahuan indera juga dapat mengahasilkan pengetahuan yang bersifat mutlak. Seperti, eksistensi laptop yang saya gunakan untuk menulis tulisan ini. Indera penglihatan saya dapat memastikan bahwa laptop yang saat ini ada di hadapan saya memang benar-benar ada.
Begitupun dengan rasio, nilai kebenaran dari pengetahuan yang dihasilkan olehnya sangat bergantung kepada kelengkapan informasi mengenai objek yang ditelaahnya. Namun dalam beberapa hal, rasio mampu menghasilkan pengetahuan yang bersifat mutlak. Seperti, ’ada’ dan ’tiada’ tidak mungkin dapat berkumpul pada saat yang bersamaan. Laptop yang saya gunakan untuk menulis tulisan ini tidak mungkin dapat ’ada’ sekaligus ’tiada’ pada saat yang bersamaan. Bagian pasti lebih kecil daripada keseluruhan. Angka 3 pasti lebih kecil dibandingkan dengan angka 10. Mustahil angka 10 lebih kecil dari angka 3. Ini adalah contoh pengetahuan aksiomatis yang dihasilkan oleh rasio. Nilai kebenarannya bersifat absolut dan final.
Adapun intuisi sangat sulit (bukan mustahil) untuk dibuktikan secara diskursif. Namun bukan berarti bahwa intuisi tidak mampu menghasilkan pengetahuan yang bernilai mutlak. Contoh: kesadaran akan eksistensi diri hanya dapat dibuktikan melalui sarana intuisi. Walaupun Descartes telah mencoba memberi bukti rasional terhadap masalah ini dengan ’cogito ergo sum’ nya, namun tetap saja Descartes tidak mampu membuktikan eksistensi dari ”aku yang berpikir” dalam solusi filosofisnya tersebut. Karena pembuktian secara diskursif terhadap ”aku yang berpikir” tidak lain hanyalah sebentuk usaha yang sia-sia. Sebab keberadaan ”aku” yang mandiri sudah sedemikian nyatanya dirasakan oleh alat intuisi manusia sehingga tidak memerlukan bukti representatif apapun lagi. Begitupun halnya dengan perasaan cinta. Cinta adalah pengalaman eksistensial yang dirasakan oleh seseorang. Adakah manusia di dunia ini yang mampu membuktikan perasaan cintanya dengan menggunakan sarana pembuktian yang rasional?
Sedemikian nyatanya perasaan cinta ini, Prof. John Nash seorang ahli matematika dan ekonomi yang menjadi peraih hadiah nobel ekonomi pada tahun 1994 pernah mengatakan:
”Aku selalu percaya akan angka dalam persamaan dan logika yang membawaku pada akal sehat. Tetapi setelah seumur hidup, aku bertanya, apa logika itu sebenarnya? Siapa yang berhak memutuskan apa yang masuk akal? Pencarianku membawaku ke alam fisik, metafisik, delusional, dan kembali. Telah kutemukan penemuan penting dalam karirku. Penemuan paling penting dalam hidupku. Bahwa hanya dalam persamaan misterius cinta sajalah, alasan ’logis’ dapat ditemukan”.
Sebuah buku luar biasa yang membahas mengenai masalah intuisi ditulis oleh Dr. Mehdi Hairi Yazdi dalam bukunya yang berjudul Knowledge by Presence.
Sebagaimana yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya bahwa dalam tradisi epistemologi Islam, wahyu (Al Qur’an dan As-Sunnah) juga diakui sebagai salah satu sumber kebenaran. Pengetahuan yang dihasilkan oleh wahyu ini sangat berkaitan erat dengan pengetahuan terhadap aspek teologis (akidah), ibadah, muamalah, dan etika (akhlak). Sebagaimana halnya sarana epistemologi yang lain, epistemologi wahyu juga dapat menghasilkan pengetahuan yang bersifat mutlak (qath’i) sekaligus pengetahuan yang masih bisa diperdebatkan (dzanni). Sangat banyak contoh yang dapat menjelaskan hal ini. Perintah untuk mendirikan shalat (Q.S Al-Ankabut: 45) merupakan pengetahuan yang bersifat absolut. Namun dalam sebagian besar tatacaranya terbuka ruang yang sangat lebar bagi munculnya perbedaan pendapat. Beberapa ulama berpendapat bahwa bersedekap (meletakan tangan di atas dada sewaktu shalat) merupakan bagian dari sunnah shalat. Sedangkan beberapa ulama lain mengharamkannya. Ini hanyalah sekedar beberapa contoh yang bisa dikemukakan.
Pemahaman terhadap status pengetahuan wahyu ini sangat penting untuk dipahami oleh umat Islam. Sebab keniscayaan akan adanya pengetahuan yang bernilai mutlak dan relatif tentu harus diikuti dengan sikap dan pendekatan yang berbeda pula. Dalam masalah pengetahuan yang bernilai absolut maka umat Islam mesti bersatu di dalamnya. Sedangkan dalam masalah pengetahuan yang masih bersifat multitafsir maka umat Islam harus saling mengedepankan sikap saling toleransi antar satu sama lain. Tidak boleh ada sikap saling mencaci dan memonopoli kebenaran karena menganggap hanya pendapatnya sajalah yang paling benar.
Setelah membahas seluruh sarana epistemologi beserta potensialitas kebenarannya maka tibalah kita untuk menjawab pertanyaan terakhir yang diajukan dalam tulisan ini, apa kriteria dari kebenaran itu sendiri?
Dalam bukunya yang berjudul Chronological and Thematic Charts of Philosophies and Philosophers, Milton D. Hunnex menyebutkan tiga teori yang menjelaskan mengenai kriteria kebenaran. Pertama, teori pragmatisme. Menurut teori ini sebuah proposisi dikatakan benar manakala proposisi tersebut memiliki manfaat praktis yang dapat dirasakan oleh individu maupun masyarakat. Teori ini pernah digunakan oleh seorang filosof besar, William James, ketika ia berupaya membuktikan kebenaran dari kehidupan beragama. Menurutnya agama dapat dibenarkan karena mampu memberikan dampak positif bagi terwujudnya stabilitas sosial. Dengan beragama seseorang akan terdorong untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk. Sehingga keamanaan, ketentraman, dan kedamaian akan tercipta.
Teori kedua adalah teori korespondensi. Berdasarkan teori ini kebenaran ditentukan oleh kesesuaian antara suatu proposisi dengan realitas. Jika ada yang mengatakan bahwa ayam adalah hewan yang berkaki lima maka dapat dipastikan bahwa proposisi tersebut salah karena bertolak belakang dengan kenyataan empirik yang ada. Sedangkan penyataan yang menyatakan bahwa sapi adalah hewan berkaki empat dapat dipastikan kebenarannya karena bersesuaian dengan fakta.
Teori ketiga adalah teori koherensi. Menurut teori ini kebenaran ditentukan oleh kesesuaian suatu proposisi dengan pengetahuan aksiomatis yang telah ada sebelumnya. Misalnya proposisi ”besar sudut dari sebuah garis lurus adalah 180 derajat”. Pernyataan ini dapat dibenarkan karena sesuai dengan pengetahuan aksiomatis yang telah diakui sebelumnya, bahwa jumlah atau besar sudut dari sebuah garis lingkaran penuh ialah 360 derajat. Sedangkan proposisi yang berbunyi ”seekor anak ayam melahirkan induknya” dapat dipastikan salah karena bertentangan dengan pengetahuan aksiomatis yang telah ada dan diakui secara umum. Inti dari teori ini adalah bahwa kebenaran ditentukan oleh prinsip nonkontradiksi antara proposisi yang ingin dibuktikan dengan pengetahuan aksiomatis yang telah diakui sebelumnya.
Menimbang berbagai argumentasi yang terkandung dalam ketiga teori di atas, penulis memilih teori yang kedua, teori korespondensi, sebagai teori terkuat yang mampu menjelaskan tentang apa kriteria dari kebenaran itu. Alasan penulis memilih teori ini ialah, karena realitas merupakan objek yang coba diungkapkan oleh setiap proposisi. Sehingga realitas jugalah yang harus dijadikan sebagai dasar bagi kebenaran sebuah proposisi, apakah proposisi tersebut sesuai dengan fakta ataukah tidak. Namun yang patut ditekankan disini ialah bahwa hakikat realitas tidak hanya terbatas pada realitas empirik an sich. Sebab realitas juga dapat berbentuk non-materi.
Adapun mengenai teori koherensi, teori ini sebenarnya hanyalah merupakan konsekuensi logis dari teori korespondensi. Sebab tidak mungkin proposisi yang telah diuji kebenarannya (sesuai dengan fakta) akan kontradiktif dengan pengetahuan aksiomatik yang telah ada sebelumnya. Sedangkan mengenai teori kebenaran pragmatis, teori ini tidak dapat dipertahankan. Sebab manfaat dari segala sesuatu senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan kondisi dan zaman. Sehingga kebenaran menurut teori ini hanyalah bersifat tentatif sekaligus relatif.
Dewasa ini, umat manusia dihadapkan dengan sejumlah tawaran pemikiran, ideologi, dan pandangan dunia. Tidak bisa tidak, tindakan seorang manusia rasional mengharuskannya untuk memilih salah satu di antara sekian banyak opsi ideologi tersebut untuk dijadikan sebagai pegangan hidupnya. Tentunya pemikiran, ideologi, dan pandangan dunia yang diadopsinya haruslah berpijak di atas kebenaran yang kokoh. Sehingga hal ini mengharuskan setiap orang untuk melakukan seleksi terhadap setiap pemikiran, ideologi, dan pandangan dunia yang ada.
Namun dalam proses penyeleksian ini tidak jarang muncul para pemikir yang mengalami semacam gejala kefrustasian intelektual, dimana rasa frustasi tersebut diekpresikannya melalui anggapan bahwa semua jenis pemikiran, ideologi, dan pandangan dunia yang ada di dunia ini masing-masing mengandung kebenaran di dalam dirinya sendiri. Sehingga gejala pemikran semacam ini menumbuhkan sikap intelektual yang subjektivistik, relativistik, atau bahkan sinkretistik.
Walaupun masih memerlukan elaborasi dan telaah yang lebih dalam, namun tulisan ini ingin menunjukan bahwa tidak semua masalah —khususnya dalam hal pemikiran, ideologi, dan pandangan dunia— yang ada di dunia ini dapat dengan mudah digeneralisasi sebagai sesuatu yang serba subjektif atau relatif. Sebab kebenaran absolut bukanlah utopia yang muncul dari manusia-manusia yang menginginkan atau mendambakan hadirnya kebenaran sejati. Karenanya manusia harus optimis dengan kesanggupannya untuk meraih kebenaran sejati tersebut. Tentunya dengan jalan mengoptimalkan seluruh potensi intelektual yang dimilikinya.

LPJ BOS SMK Tahun Anggaran 2020

LPJ BOS SMK Tahun Anggaran 2020 User via SMS :  0857 5954 7892 FB :  https://web.facebook.com/iwan.kurniawanb Twitte...