Kamis, 31 Maret 2016

ILMU DASAR FILSAFAT





Pengertian Filsafat

1. Arti filsafat

 
Apakah filsafat itu? Bagaimana definisinya? Demikianlah pertanyaan pertama. yang kita hadapi tatkala akan mempelajari ilmu filsafat. Istilah "filsafat" dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
1.        Segi semantik: perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab 'falsafah', yang berasal dari bahasa Yunani, 'philosophia', yang berarti 'philos' = cinta, suka (loving), dan 'sophia' = pengetahuan, hikmah(wisdom). Jadi 'philosophia' berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut 'philosopher', dalam bahasa Arabnya 'failasuf". Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
2.        Segi praktis : dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat bererti 'alam pikiran' atau 'alam berpikir'. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir bererti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa "setiap manusia adalah filsuf". Semboyan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
 
Beberapa definisi
Kerana luasnya lingkungan pembahasan ilmu filsafat, maka tidak mustahil kalau banyak di antara para filsafat memberikan definisinya secara berbeda-beda. Coba perhatikan definisi-definisi ilmu filsafat dari filsuf Barat dan Timur di bawah ini:
1.        Plato (427SM - 347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
2.        Aristoteles (384 SM - 322SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
3.        Marcus Tullius Cicero (106 SM - 43SM) politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
4.        Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
5.        Immanuel Kant (1724 -1804), yang sering disebut raksasa pikir Barat, mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
" apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
" apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
" sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)
6.        Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
7.        Drs H. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
 
Kesimpulan
Setelah mempelajari rumusan-rumusan tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa:
a.        Filsafat adalah 'ilmu istimewa' yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa kerana masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
b.        Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada, yaitu:
" hakikat Tuhan,
" hakikat alam semesta, dan
" hakikat manusia,
serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut. Perlu ditambah bahwa definisi-definisi itu sebenarnya tidak bertentangan, hanya cara mengesahkannya saja yang berbeda.

 

2. Cara membatasi filsafat

Kerana sangat luasnya lapangan ilmu filsafat, maka menjadi sukar pula orang mempelajarinya, dari mana hendak dimulai dan bagaimana cara membahasnya agar orang yang mempelajarinya segera dapat mengetahuinya. Pada zaman modern ini pada umunya orang telah sepakat untuk mempelajari ilmu filsafat itu dengan dua cara, yaitu dengan memplajari sejarah perkembangan sejak dahulu kala hingga sekarang (metode historis), dan dengan cara mempelajari isi atau lapangan pembahasannya yang diatur dalam bidang-bidang tertentu (metode sistematis).
Dalam metode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu kala sehingga sekarang. Di sini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana timbulnya aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika, dan tentang keagamaan. Seperti juga pembicaraan tentang zaman purba dilakukan secara berurutan (kronologis) menurut waktu masing masing. Dalam metode sistematis orang membahas langsung isi persoalan ilmu filsafat itu dengan tidak mementingkan urutan zaman perjuangannya
masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang-bidang yang tertentu. Misalnya, dalam bidang logika dipersoalkan mana yang benar dan mana yang salah menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berpikir yang benar dan mana yang salah. Kemudian dalam bidang etika dipersoalkan tentang manakah yang baik dan manakah yang baik dan manakah
yang buruk dalam pembuatan manusia. Di sini tidak dibicarakan persoalan-persoalan logika atau metafisika. Dalam metode sistematis ini para filsuf kita konfrontasikan satu sama lain dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam soal etika kita konfrontasikan saja pendapat pendapat filsuf zaman klasik (Plato dan Aristoteles) dengan pendapat filsuf zaman pertengahan (Al-Farabi atau Thimas Aquinas), dan pendapat filsuf zaman 'aufklarung' (Kant dan lain-lain) dengan pendapat-pendapat filsuf dewasa ini (Jaspers dan Marcel) dengan tidak usah mempersoalkan tertib periodasi masing-masing. Begitu juga dalam soal-soal logika, metafisika, dan lain-lain.

3. Cabang-cabang filsafat

 
Telah kita ketahui bahwa filsafat adalah sebagai induk yang mencakup semua ilmu khusus. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya, filsafat. Mula-mula matematika dan fisika melepaskan diri, kemudian diikuti oleh ilmu-ilmu lain. Adapun psikologi baru pada akhir-akhir ini melepaskan diri dari filsafat, bahkan di beberapa insitut, psikologi masih terpaut dengan filsafat. Setelah filsafat ditinggalkan oleh ilmu-ilmu khusus, ternyata ia tidak mati, tetapi hidup dengan corak baru sebagai 'ilmu istimewa' yang memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus. Yang menjadi pertanyaan ialah : apa sajakah yang masih merupakan bagian dari filsafat dalam coraknya yang baru ini? Persoalan ini membawa kita kepada pembicaraan tentang cabang-cabang filsafat. Ahi filsafat biasanya mempunyai pembagian yang berbeda-beda. Cuba perhatikan sarjana-sarjana filsafat di bawah ini: 
1.   H. De Vos menggolongkan filsafat sebagai berikut: " metafisika, " logika, " ajaran tentang ilmu pengetahuan " filsafat alam " filsafat sejarah " etika, " estetika, dan " antropologi.
2. Prof. Albuerey Castell membagi masalah-masalah filsafat menjadi enam bagian, yaitu: " masalah teologis " masalah metafisika " masalah epistomologi " masalah etika " masalah politik, dan " masalah sejarah
3 Dr. Richard H. Popkin dan Dr Avrum Astroll dalam buku mereka, Philosophy Made Simple, membagi pembahasan mereka ke dalam tujuh bagian, yaitu: " Section I Ethics " Section II  olitical Philosophy " Section III Metaphysics " Section IV Philosophy of Religion " Section V Theory of Knowledge " Section VI Logics " Secton VII Contemporary Philosophy,
4. Dr. M. J. Langeveld mengatakan: Filsafat adalah ilmu Kesatuan yang terdiri atas tiga lingkungan masalah: " lingkungan masalah keadaan (metafisika manusia, alam dan seterusnya) " lingkungan masalah pengetahuan (teori kebenaran, teori pengetahuan, logika) " lingkungan masalah nilai (teori nilai etika, estetika yang bernilai berdasarkan religi) 5. Aristoteles, murid Plato, mengadakan pembagian secara kongkret dan sistematis menjadi empat cabang, yaitu:
a) Logika. Ilmu ini dianggap sebagai ilmu pendahuluan bagi filsafat.
b) Filsafat teoretis. Cabang ini mencangkup: " ilmu fisika yang mempersoalkan dunia materi dari alam nyata ini, " ilmu matematika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu dalam kuantitasnya, " ilmu metafisika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu. Inilah yang paling utama dari filsafat. 
c) Filsafat praktis. Cabang ini mencakup: " ilmu etika. yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup perseorang " ilmu ekonomi, yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran di dalam negara.
d) Filsafat poetika (Kesenian).
Pembagian Aristoteles ini merupakan permulaan yang baik sekali bagi perkembangan pelajaran filsafat sebagai suatu ilmu yang dapat dipelajari secara teratur. Ajaran Aristoteles sendiri, terutama ilmu logika, hingga sekarang masih menjadi contoh-contoh filsafat klasik yang dikagumi dan dipergunakan. Walaupun pembagian ahli yang satu tidak sama dengan pembagian ahli-ahli lainnya, kita melihat lebih banyak persamaan daripada perbedaan. Dari pandangan para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat dalam coraknya yang baru ini mempunyai beberapa cabang, yaitu metafisika, logika, etika, estetika, epistemologi, dan filsafat-filsafat khusus lainnya.
1. Metafisika: filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, hakikat yang bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman manusia. 
2. Logika: filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah.
3. Etika: filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk.
4. Estetika: filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek.
5. Epistomologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan.
6. Filsafat-filsafat khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia,
 
Filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan, dan sebagainya. Seperti telah dikatakan, ilmu filsafat itu sangat luas lapangan pembahasannya. Yang ditujunya ialah mencari hakihat kebenaran dari segala sesuatu, baik dalam kebenaran berpikir (logika), berperilaku (etika), maupun dalam mencari hakikat atau keaslian (metafisika). Maka persoalannya menjadi apakah sesuatu itu hakiki (asli) atau palsu (maya). Dari tinjauan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam tiap-tiap pembagian sejak zaman Aristoteles hingga dewasa ini lapangan-lapangan yang paling utama dalam ilmu filsafat selalu berputar di sekitar logika, metafisika, dan etika.
 

4. Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat

Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran. S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya.
Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran. Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugasfilsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika   kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan 'nation', ras, dan keyakinan
keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.
Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya. Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.
Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).
 

5. Aliran-aliran dalam filsafat

Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat sangat banyak dan kompleks. Di bawah ini akan kita bicarakan aliran metafisika, aliran etika, dan aliran-aliran teori pengetahuan.
a. Aliran-aliran metafisika
Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu (1) yang mengenai kuantitas (jumlah) dan (2) yang mengenai kualitas (sifat).Yang mengenai kuantitas terdiri atas (a)monisme, (b) dualisme, dan (c) pluralisme. Monisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa unsur pokok segala yang ada ini adalah esa (satu). Menurut
Thales: air menurut Anaximandros: 'apeiron' menurut Anaximenes: udara. Dualisme adalah aliran yang berpendirian bahwa unsure pokok sarwa yang ada ini ada dua, yaitu roh dan benda. Pluralisme adalah aliran yang berpendapat bahwa unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak. Menurut Empedokles: udara, api, air dan tanah. Yang mengenai kualitas dibagi juga menjadi dua bagian besar, yakni (a) yang melihat hakikat kenyataan itu tetap, dan (b) yang melihat hakikat kenyataan itu sebagai kejadian.
Yang termasuk golongan pertama (tetap) ialah: " Spiritualisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh. " Materialisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat materi. Yang termasuk golongan kedua (kejadian) ialah: " Mekanisme, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya menurut hukum sebab-akibat. " Aliran teleologi, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian yang satu berhubungan dengan kejadian yang lain, bukan oleh hukum sebab-akibat, melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama. " Determinisme, yaitu aliran yang mengajarkan bahwa kemauan manusia itu tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting, tetapi sudah terpasti lebih dahulu.
" Indeterminisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa kemauan manusia itu bebas dalam arti yang seluas-luasnya.
 
b. Aliran-aliran etika
Aliran-aliran penting dalam etika banyak sekali, diantaranya ialah:
1)  Aliran etika nuturalisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural (fitrah) kejadian manusia sekali.
2)  Aliran etika hedonisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan 'hedone' (kenikmatan dan kelazatan).
3)  Aliran etika utilitarianisme, yaitu aliran yang menilai baik dan buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi manusia (utility = manfaat).
4)  Aliran etika idealisme, yaitu aliran yang menilai baik buruknya perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.
5)  Aliran etika vitalisme, yaitu aliran yang menilai baik-buruknya perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya daya hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.
6)  Aliran etika theologis, yaitu aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos = Tuhan).


c. Aliran-aliran teori pengetahuan
Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku.
Pertama, golongan yang mengemukakan asal atau sumber pengetahuan. Termasuk ke dalamnya:
" Rationalisme, yaitu aliran yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio dan jiwa manusia.
" Empirisme, yaitu aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap pancainderanya.
" Kritisisme (transendentalisme), yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri.
" Kedua, golongan yang mengemukakan hakikat pengetahuan manusia. Termasuk ke dalamnya:
" Realisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambar yang baik dan tepat dari kebenaran dalam pengetahuan yang baik tergambarkan kebenaran seperti sungguh-sungguhnya ada.
" Idealisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu sekaliannya terletak di luarnya.
 
d. Aliran-aliran lainnya dalam filsafat
Di samping aliran-aliran di atas, masih banyak aliran yang lain dalam filsafat. Aliran-aliran itu antara lain ialah:
1)  Eksistensialisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia yang kongkret, yaitu manusia sebagai eksistensi, dan sehubungan dengan titik tolak ini. maka bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi.
2)  Pragmatisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa benar dan tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung pada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak di dalam kehidupannya.
3)  Fenomenologi, yaitu aliran yang berpendapat bahwa hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamati fenomena atau pertemuan kita dengan realitas.
4)  Positivisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat hendaknya semata-mata berpangkal pada peristiwa yang positif, artinya peristiwa-peristiwa yang dialami manusia.
5)  Aliran filsafat hidup, yaitu aliran yang berpendapat bahwa berfilsafat barulah mungkin jika rasio dipadukan dengan seluruh kepribadian sehingga filsafat itu tidak hanya hal yang mengenai berpikir saja, tetapi juga mengenai ada, yang mengikutkan kehendak, hati, dan iman, pendeknya seluruh hidup.

 

6. Filsafat, agama, dan ilmu pengetahuan

a. Filsafat dan agama
Dalam buku Filsafat Agama karangan Dr. H. Rosjidi diuraikan tentang perbedaan filsafat dengan agama, sebab kedua kata tersebut sering dipahami secara keliru.
Filsafat
1) Filsafat berarti berpikir, jadi yang penting ialah ia dapat berpikir.
2) Menurut William Temple, filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memahami.
3) C.S. Lewis membedakan 'enjoyment' dan 'contemplation', misalnya laki-laki mencintai perempuan. Rasa cinta disebut 'enjoyment', sedangkan memikirkan rasa cintanya disebut 'contemplation', yaitu pikiran si pecinta tentang rasa cintanya itu.
4) Filsafat banyak berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang.
5) Filsafat dapat diumpamakan seperti air telaga yang tenang dan jernih dan dapat dilihat dasarnya.
6) Seorang ahli filsafat, jika berhadapan dengan penganut aliran atau paham lain, biasanya bersikap lunak.
7) Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam pekerjaannya, sering mengeruhkan pikiran pemeluknya.
8) Ahli filsafat ingin mencari kelemahan dalam tiap-tiap pendirian dan argumen, walaupun argumenya sendiri.
Agama
1) Agama berarti mengabdikan diri, jadi yang penting ialah hidup secara beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.
2) Agama menuntut pengetahuan untuk beribadat yang terutama merupakan hubungan manusia dengan Tuhan.
3) Agama dapat dikiaskan dengan 'enjoyment' atau rasa cinta seseorang, rasa pengabdian (dedication) atau 'contentment'.
4) Agama banyak berhubungan dengan hati.
5) Agama dapat diumpamakan sebagai air sungai yang terjun dari bendungan dengan gemuruhnya.
6) Agama, oleh pemeluk-pemeluknya, akan dipertahankan dengan habis-habisan, sebab mereka telah terikat dn mengabdikan diri.
7) Agama, di samping memenuhi pemeluknya dengan semangat dan perasaan pengabdian diri, juga mempunyai efek yang menenangkan jiwa pemeluknya.
8) Filsafat penting dalam mempelajari agama.
Demikianlah antara lain perbedaan yang terdapat dalam filsafat dan agama menurut Dr. H. Rosjidi.
 
b. Filsafat dan ilmu pengetahuan
Apakah hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan? Oleh Louis Kattsoff dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan, dan bukanya di dalam ilmu pengetahuan. Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang filsuf. Pada bagian lain dikatakan: Filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut. Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuwan yang juga filsuf. Para filsuf terlatih di dalam metode ilmiah, dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1) Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan.
2) Objek material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan objek material filsafat adalah alam, manusia dan ketuhanan.


c. Bedanya filsafat dengan ilmu-ilmu lain.
1) Filsafat menyelidiki, membahas, serta memikirkan seluruh alam kenyataan, dan menyelidiki bagaimana hubungan kenyataan satu sama lain. Jadi ia memandang satu kesatuan yang belum dipecah-pecah serta pembahasanya secara kesuluruhan. Sedangkan ilmu-ilmu lain atau ilmu vak menyelidiki hanya sebagian saja dari alam maujud ini, misalnya ilmu hayat membicarakan tentang hewan, tumbuh-tumbuhan dan manusia; ilmu bumi membicarakan tentang kota, sungai, hasil bumi dan sebagainya.
2) Filsafat tidak saja menyelidiki tentang sebab-akibat, tetapi menyelidiki hakikatnya sekaligus. Sedangkan ilmu vak membahas tentang sebab dan akibat suatu peristiwa.
3) Dalam pembahasannya filsafat menjawab apa ia sebenarnya, dari mana asalnya, dan hendak ke mana perginya. Sedangkan ilmu vak harus menjawab pertanyaan bagaimana dan apa sebabnya. Sebagian orang menganggap bahwa filsafat merupakan ibu dari ilmu-ilmu vak. Alasannya ialah bahwa ilmu vak sering menghadapi kesulitan dalam menentukan batas-batas lingkungannya masing-masing. Misalnya batas antara ilmu alam dengan ilmu hayat, antara sosiologi dengan antropologi. Ilmu-ilmu itu dengan sendirinya sukar menentukan batas-batas masing-masing. Suatu instansi yang lebih tinggi, yaitu ilmu filsafat, itulah yang mengatur dan menyelesaikan hubungan dan perbedaan batas-batas antara ilmu-ilmu vak tersebut.
 
7. Rangkuman
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu, dengan mencari sebab-sebab terdalam, berdasarkan kekuatan pikiran manusia sendiri. Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu hal tertentu (objek atau lapangannya), yang merupakan kesatuan yang sistematis, dan memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan sebab-sebab hal itu. Jadi berarti ada metode, ada sistem, ada satu pandangan yang dipersatukan (memberi sintesis), dan yang dicari ialah sebab-sebabnya.
Demikian filsafat mempunyai metode dan sistem sendiri dalam usahanya untuk mencari hakikat dari segala sesuatu, dan yang dicari ialah sebab-sebab yang terdalam. Ilmu-ilmu pengetahuan dirinci menurut lapangan atau objek dan sudut pandangan. Objek dan sudut pandangan filsafat disebut juga dalam definisinya, yaitu "segala sesuatu". Lapangan filsafat sangat jelas; ia meliputi segala apa yang ada. Pertanyaan-pertanyaan kita itu mengenai kesemuanya yang ada, tak ada yang dikecualikan. Hal-hal yang tidak kentara pun (seperti jiwa manusia, kebaikan, kebenaran, bahkan Tuhan sendiri pun) dipersoalkan. Lapangan yang sangat luas ini nanti kita bagi-bagi ke dalam beberapa lapangan pokok.
Sebab-sebab yang terdalam Dengan ini ditunjuk sudut pandangan, aspek khusus, sudut khusus yang dipelajari dalam segala sesuatu itu. Sudut pandangan (juga disebut "object formal") ini yang membedakan berbagai ilmu pengetahuan yang mengenai objek atau lapangan yang sama. Misalnya ilmu kedoktoran mempelajari manusia dilihat dari sudut tubuhnya yang sakit dan harusnya disembuhkan, sosiologi mempelajari manusia dalam sudut kemasyarakatan. Demikianlah filsafat mempelajari dalam segala sesuatu itu ialah keterangan yang penghabisan, yang terakhir, dan terdalam, sampai habis, sampai pada sebab yang terakhir. Yang kita cari ialah kebijaksanaan, hakikat dari seluruh kenyataan, intisari dan esensi dari semua yang ada. Kekuatan pikiran manusia sendiri Dengan ini ditunjuk alat yang kita gunakan dalam usaha kita untuk mencapai kebijaksanaan itu, yaitu pikiran kita sendiri. Ini membedakan filsafat dari teologi (ilmu ke-Allahan) yang juga mengenai segala sesuatu, tetapi yang berdasarkan wahyu Tuhan. Filsafat tidak berdasarkan wahyu Tuhan, tidak meminta pertolongan dari Kitab Suci, tetapi berdasarkan asas-asas dan dasar-dasarnya hanya dengan cara analisis-analisis oleh pikiran kita
sendiri. Justru karena itu, filsafat dapat merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum, bagi setiap orang, terserah agama mana yang dianutnya. Akan tetapi, ini pun kelemahan filsafat: jika hanya filsafat saja yang cukup dipakai sebagai pegangan hidup, pandangan hidup, maka ini tidak cukup, sebab banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan 100% memuaskan oleh filsafat, sedangkan filsafat sendiri dalam usahanya mencari hakikat dari seluruh kenyataan menunjuk kepada Tuhan sebagai sumber terakhir dan sebab pertama. (Jadi, sebetulnya filsafat dan agama !! tidak bertentangan, tetapi saling melengkapi).
 
Karena sangat luasnya lapangan yang diselidiki dan sulit serta berbelit-belitnya soal-soal yang dihadapi maka lapangan yang sangat luas ini dibagi-bagi ke dalam beberapa lapangan pokok agar penyelidikan dapat dilakukan dengan sistemis dan baik. Pembagian ini diadakan secara induksi, yaitu dengan melihat dulu persoalan-persoalan mana yang timbul dan minta diselesaikan.
a. Tentang pengetahuan (alat untuk mencapai 'insight' itu)
1) Logika formal (logic)
Membentangkan hukum-hukum yang harus ditaati agar kita berpikir dengan lurus dan baik dan dapat mencapai kebenaran. Ini akan dipelajari lebih lanjut dalam masa akan datang.
2) Kritika atau logika material (epistemology)
Memandangkan isi pengetahuan kita, sumber-sumbernya, proses terjadinya pengetahuan, dan memberikan pertanggungjawaban tentang kemungkinan dan batas-batas pengetahuan kita (soal kekeliruan, kepastian, dan sebagainya).
 
b. Tentang pertanyaan dan sebab-sebabnya yang terdalam
3) Metafisika (ontology/metaphysics)
Mengupas apa ertinya "ada" itu, apa tujuannya, apa sebab-sebabnya, dan mencari hakikat dari semua barang yang ada (hylemorphisme)
4) Theodycea atau teologia naturalis (natural theology)
Merupakan konsekuensi terakhir dari penyelidikan filsafat, dengan menunjukkan sebab pertama dan tujuan terakhir; mencari berdasarkan kekuatan pikiran manusia sendiri bukti-bukti tentang adanya Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan hubunganNya dengan dunia.
 
c. Tentang manusia dan dunia
5) Filsafat tentang manusia (philosophy of man)
(Juga sering disebut antropologia metafisika atau psikologia metafisika). Ini merupakan inti dan pangkalan dari seluruh filsafat: Orang mengetahui tentang "ada" itu dari adanya sendiri. Maka diselidiki apa kodrat (nature) manusia itu, bagaimana susunannya atas badan dan jiwa, bagaimana terjadinya pengetahuan, apa kehendak bebas, apa arti dan peranan keinderaan dan perasaan, apa arti kepribadian, dan sebagainya.
6) Kosmologia (philosophy of nature)
Mempersoalkan dunia material, susunannya, aturannya, mencari hakikat dari waktu dan tempat, gerakan, hidup, dan sebagainya.
 
d. Tentang kesusilaan
7) Etika atau filsafat moral (ethics)
Membentangkan apa yang baik, apa yang buruk, apa ukuran-ukurannya, bagaimana dan mengapa manusia terikat oleh aturan-aturan ke susilaan, bagaimana kita dipimpin oleh suara batin, bagaimana tujuan hidup dapat kita capaui, dan sebagainya.
8) Etika sosial
Merupakan bagian dari etika yang sangat penting pula, taitu yang membicarakan norma-norma hidup kemasyarakatan (keluarga, Negara internasional).
e. Lain-lain
Lapangan-lapangan yang tersebut di atas merupakan lapangan-lapangan pokok dari filsafat. Di samping. Di samping itu ada beberapa lapangan yang penting pula, yang merupakan rincian legih lanjut, penerapan asa-asas
filsafat pada lapangan-lapangan hidup tertentu. Antara lain: asas-asas filsafat pada lapangan-lapangan hidup tertentu. Antara lain:
" filsafat kebudayaan (kombinasi etika dan filsafat tentang manusia).
" filsafat kesenian atau estetika, praktis
" filsafat hukum
" filsafat tentang sejarah, bahasa, ekonomi, teknik, agama, kerja dan lain-lain.
 
Kepentingan filsafat
Akhirnya sepatah kata tentang kepentingan filsafat. Filsafat sering dianggap teori belaka, yang jauh dari kenyataan hidup konkret. Akan tetapi, filsafat ada segi praktisnya juga. Sikap dan pandangan yang dipertanggungjawabkan, seperti yang kita cari dalam filsafat, dengan sendirinya akan mempengaruhi sikap kita praktis juga. Kebijaksanaan tidak hanya berarti "pengetahuan yang mendalam", tetapi juga "sikap hidup yang benar", yang tepat, sesuai dengan pengetahuan yang telah dicapai itu. Ini nampak dengan jelas terutama pada pelajaran etika dan logika yang bersama-sama memberikan pegangan dan bimbingan kepada pikiran dan kepada kehendak, agar hidup dengan 'benar' dan 'baik'. maka konkretnya:
1) Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri: dengan berpikir lebih mendalam, kita mengalami dan menyadari kerohanian kita. Rahasia hidup yang kita selidiki justru memaksa kita untuk berpikir untuk hidup sesadar-sadarnya, dan memberikan isi kepada hidup kita sendiri.
2) Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari. Orang yang hidup secara "dangkal" saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi melihat pemecahnya. Dalam filsafat kita dilatih melihat dulu apa yang menjadi persoalan, dan ini merupakan syarat mutlak untuk memecahkannya.
3) Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung "akuisme" dan "aku-sentrisme" (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku).
4) Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri, hingga kita takhanya ikut-ikutan saja, membuntut pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, "berdiri-sendiri",dengan cita-cita mencari kebenaran.
5) Filsafat memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.
 
LATIHAN
1. Apa erti kata filsafat? Mengapa ahli filsafat disebut filsuf?
2. Apa ertinya kebijaksanaan itu?
3. Mengapa kiranya filsafat harus dilakukan dengan aktif?
4. Terangkanlah: kebenaran adalah permulaan filsafat!
5. Uraikanlah soal-soal mana saja yang dapat timbul bagi seorang yang hidup dengan sadar akan dirinya sendiri!
6. Apakah benar jika dikatakan bahwa sebetulnya setiap orang adalah ahli filsafat?
7. Berikanlah definisi filsafat dan terangkanlah erti kata-katanya masing-masing!
8. Apa objek filsafat, dan apa sudut pandangannya?
9. Uraikanlah tentang pembagian filsafat! Mengapa lapangan filsafat dibagi-bagi, dan mengapa dibagi-bagi demikian?
10.Apakah yang dibicarakan dalam logika, kosmologi, etika sosial?
11.Bagaimanakah soal-soal tentang kesusilaan dapat membawa manusia untuk berfilsafat?

 

 

 

RESUME “SOSIOLOGI DAN FILSAFAT”




:iwan.kurniawan


Buku “Sosiologi dan Filsafat” yang terbit pertama kali tahun 1989 oleh Penerbit Erlangga Jakarta ini merupakan terjemahan dari buku yang berjudul asli “Sociology and Philosophy”.Adapun “Sociology and Philosophy” merupakan produk alih bahasa dari sebuah buku yang berisis kumpulan makalah berbahasa Prancis karya Emile Durkheim di bawah judul “Sociologie et Philosophy”.
Menurut J.G. Peristiany, karya-karya Emile Durkheim yang terkompilasi dalam buku ini dapat disebut sebagai Esei dalam spiritualisme. Pendapat ini—menurutnya—didasari oleh tesis yang diajukan oleh Durkheim: masyarakat adalah suatu sistem dinamis dan merupakan landasan berpijak kehidupan moral.
Selanjutnya, untuk lebih mendalam dalam memahami karya Durkheim—yang oleh Talcott Parsons disebut sabagai seorang dari dua pendiri utama era sosiologi modern (yang satunya adalah max Weber—berikut ini adalah resume dari beberapa makalah karya Durkehim yang dibukukan dalam satu judul buku “Sociology and Philosophy”.

Representasi Individu dan Representasi Kolektif, Absurditas Pelekatan Ide kepada Sel
Eksistensi ingatan cukup untuk menyatakan bahwa representasi kehidupan tidaklah inheren dalam zat saraf; sebab ia memiliki cara berada diri sendiri, dan berdasarkan kekuatan-kekuatannya sendiri. Karena reaksi-reaksi unsur otak satu sama lain diterima dan ditekan oleh ingatan, bukan satu-persatu tetapi secara keseluruhan dalam apa yang dapat dinamakan sebagai eksistensi komunal. Bilamana ada kehidupan komunal, maka akan terdapat dampak-dampak yang jauh melampaui pengaruh unsur-unsur. Itulah sebabnya, dengan cara yang sama bisa dikatakan bahwa pengetahuan tentang apa saja yang berlangsung dalam pikiran individu tidak memberikan kunci untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran kolektif.
            Moral berawal dari anggota suatu kelompok dan ketika dia dianggap menempatkan individu lebih rendah dibanding kewajiban sosial dan waktu menunjukkan bahwa dewasa ini kewajiban utama manusia ialah melaksanakan kewajiban profesionalnya.  “Masyarakat bukanlah sebuah sistem organ fungsi tetapi merupakan pusat kehidupan moral”.  “Fungsi masyarakat yang sebenarnya ialah menciptakan ideal”. Oleh karena itu, masyarakat membentuk suatu pusat asal melalui mana hakikat melintas untuk kemudian melampaui dirinya sendiri.

Filsafat dan Fakta Moral
Tujuan yang selalu ingin dikejar dan dicapai oleh para filsuf moral sepnjang zaman sangat berbeda sifatnya. Sebab mereka tidak pernah mengarah pada suatu tujuan representasi tertentu, tanpa menambah atau mengurangi realitas moral yang ada. Ambisi para filsuf moral seringkali adalah membangun moralitas baru, yakni suatu moralitas yang berbeda dalam tema esensial dengan yang dianut oleh rekan mereka atau para pendahulu mereka.  Mereka itu biasanya revolusioner atau pemberontak. Sedang persoalan yang dibahas adalah bagaimana menemukan kandungan moralitas. Bukan kandungan sebagaimana dipandang oleh filsuf tertentu, tetapi kandungan sebagaimana dipandang oleh kemanusiaan dalam wujud diri kolektif. Dari sudut pandang ini, doktrin-doktrin para filsafat tadi kehilangan sebagaian besar nilainya.
            Namun adalah sangat keliru untuk beranggapan bahwa para filsuf itu terabaikan. Yang ditolak adalah: hak istimewa dan keutamaan yang sering diberikan pada mereka. Mereka mengajari tentang fakta, mengajarkan tentang apa yang  ada dalam pikiran publik pada kurun waktu tertentu, dan oleh karena itu seharusnya mereka bisa memberikan penjelasan yang memadai. Yang tidak disetujui adalah: mereka mengungkapkan kebenaran moral dengan cara yang sangat muluk-muluk sebagaimana pakar fisika atau kimia menyatakan kebenaran tentang susunan suatu benda di bawah judul fisiko-kimiawi. Konsepsi para filsuf dan moralis telah banyak membantu untuk memasuki lebih jauh lagi analisis kita tentang ilmu masyarakat (kesadaran komunal) menuju lapisan dimana arus yang usang dan separuh sadar tersebut diteliti.

Pertimbangan Nilai dan Pertimbangan Realitas
Segala sesuatu yang bernilai, dalam batas tertentu adalah baik. Segala sesuatu yang baik berarti diinginkan. Dan semua keinginan adalah keadaan psikologis. Namun demikian, nilai mempunyai obyektivitas. Bagaimanakah kedua ciri (Pertimbangan Nilai dan Pertimbangan Realitas) yang sekilas bertentangan ini dapat dikombinasikan; bagaimana seseorang menyatakan suatu keadaan perasaan, terlepas dari orang yang merasakannya? Terhadap permasalahan ini ada beberapa tawaran jawaban yang bertentangan.
            Bagi mayoritas pemikir dari beragam aliran, perbedaan antara kedua jenis pertimbangan jelas sekali: setiap obyek mempunyai nilai inheren (berhubungan erat), dan pertimbangan nilai mengungkapkan tidak lebih dari sekadar pengaruh ciri khas obyek pertimbangan itu terhadap penilai. Jika pengaruhnya digemari, maka obyek diberi nilai positif, jika tidak, nilai negatif. Jika kehidupan bernilai bagi manusia, itu karena manusia merupakan makhluk hidup—dan sudah merupakan sifat makhluk hidup untuk hidup.
            Nilai terdiri dari pengaruh yang dihasilkan oleh sesuatu benda terhadap sensibilitas, padahal sensibilitas tiap-tiap orang sangat berbeda. Sementara orang gemar terhadap sesuatu sedang orang lain justru jijik. Kehidupan pun tak diinginkan semua orang, sebab ada orang yang membunuh—entah karena kewajiban atau kebencian. Bagaimanapun terdapat banyak ragam untuk menghayatinya. ada yang menyukai nilai  yang intens dan komplek, ada yang justru menyukai kesederhanaan.
            Dapat dikatakan bahwa  ada tipe rata-rata dalam mayoritas individu, dan bahwa penilaian obyektif terhadap sesuatu obyek menunjukkan dampak obyek tersebut terhadap rata-rata individu. Oleh karena itu, tidak dapat melihat pada orang rata-rata tersebut untuk menemukan standar moralitas. Alasan lain mengapa evaluasi subyektif dan evaluasi rata-rata tidak boleh dicampuradukkan adalah bahwa reaksi rata-rata individu tetap merupakan reaksi idividu. Karena suatu kondisi tertentu selalu ditemukan bersama sebagian terbesar orang. Dengan alasan ini tidak bisa dikatakan bahwa evaluasi rata-rata adalah obyektif.
            Dalam hal ini, nilai diperoleh dari cara bagaimana benda memengaruhi subyek kolektif, dan bukan subyek individu. Taksiran menjadi obyektif bila ia telah memiliki sifat kolektif. Maka dapatlah dijelaskan bahwa kesadaran akan kendala eksternal berlaku bila seseorang membuat suatu penilaian.
            Aspek pertimbangan nilai bukanlah satu-satunya sebab ada pertimbangan lain yang bertentangan dengan pertimbangan ini. Nlai-nilai yang sama—yang di satu pihak mempunyai pengaruh realitas—di lain pihak tampak sebagai sesuatu yang disukai dan secara alamiah diinginkan. Satu fakta: masyarakat pada saat yang sama bertindak sebagai legislator sekaligus sebagai pencipta dan pelindung semua hasil peradaban.
            Ada beberapa jenis nilai yang berbeda. Nilai ekonomi, moral, agama, estetika, dan nilai spekulatif, semuanya berbeda. Usaha mereduksi suatu nilai menjadi nilai lain, ide tentang kebaikan, kecantikan, kebenaran, dan kegunaan, semuanya telah terbukti gagal. Jika apa yang menentukan nilai hanyalah cara sesuatu benda memengaruhi bekerjanya kehidupan sosial, maka keragaman nilai menjadi sukar dijelaskan. Dan juga, jika nilai suatu benda ditentukan oleh tingkat kegunaan sosial atau kegunaan individualnya, maka sistem nilai manusia akan goncang dan berubah dari atas ke bawah.
            Selanjutnya ditemukan bahwa semua orang sepakat mengandalkan bahwa nilai suatu benda adalah inheren di dalam, dan menunjukkan hakikat benada itu. Tetapi postulat ini bertentangan dengan kenyataan. Ada banyak keadaan di mana hubungan itu seperti tidak ada di antara ciri khas suatu obyek dengan nilai yang diatribusikan kepada obyek itu.
            Teori yang berlaku sekarang, bahwa benda yang menjadi obyek suatu kultus adalah benda yang memunyai kekuatan pengaruh kepada pikiran manusia, adalah bertentangan dengan sejarah. Nilai tak sebanding yang diatribusikan kepada obyek tersebut tidak ada hubungannya dengan nilai intrinsik obyek tersebut. Tidak ada keyakinan aktif, betapa pun sekulernya, yang tidak mengandung unsur-unsur pemujaan, dimana ketidakberimbangan mencolok serupa dapat ditunjukkan. Sebuah bendera hanyalah potongan kain; namun demikian seorang prajurit bersedia mati demi memertahankannya. Moralitas juga tidak kurang  kayanya dengan kontras –kontras semacam ini. Maka tidak dapat disangsikan bahwa persamaan moral adalah suatu ideal yang tidak akan pernah tercapai, walau pun terus saja diangankan bisa mendekatinya.
            Ritschl dan Kant mengemukakan teori: kalau nilai benda tidak terletak pada benda itu, dan tidak pula dengan sifat realitas empiriknya, berarti sumber nilai benda tersebut terletak di luar pengalaman dan secara empirik dapat diverifikasi.
            Benda dikatakan memunyai nilai bila benda tersebut menunjukkan suatu aspek ideal, sedang tinggi-rendah nilai tersebut bergantung pada ideal itu da paa tingkat mana ia mewujudkan ideal itu. Namun demikian, nilai yang diatribusikan kepada ideal itu, tidaklah menjelaskan dirinya sendiri. Ia dipostulasikan, tetapi tidak menjelaskan. Jika ideal itu bergantung pada realitas, maka mustahil untuk untuk menemukan dalam realitas kondisi dan penyebab  yang membuatnya dapat diterima dengan akal.
            Singkatnya, jika nilai suatu benda tidak dapat dan tidak pernah ditaksir kecuali dalam hubungannya dengan konsepsi tertentu tentang ideal, maka yang terakhir ini perlu dijelaskan. Agar dapat mengerti bagaiman pertimbangan nilai bisa muncul, tidak cukup hanya dengan mempostulasikan bahwa ada sejumlah ideal tertentu. Asal-usulnya, bagaiman kaitannya satu sama lain, transendensinya, pengalamannya, dan sifat obyektivitasnya harus turut dipertimbangkan.
            Karena ideal-ideal dan sistem-sistem nilai yang berkaitan beragam sesuai dengan keragaman kelompok manusia, maka kesannya adalah asal-usul keduanya sama. sebuah teori menyatakan bahwa masyarakat dianggap sebagai sebuah sistem organ dan fungsi, yang bertugas memelihara dirinya terhadap perusak dari luar. Tetapi masyarakat lebih dari gambaran ini sebab masyarakat merupakan pusat kehidupan moral, hanya saja kekuatan dan independensinya belum dikenal sepenuhnya.
            Bila pikiran-pikiran individu tidak terpisah tetapi merupakan hubungan erat dan saling memengaruhi satu sama lain, maka dari sintesis ini timbullah suatu jenis baru kehidupan fisik. Kehidupan fisik ini dapat dibedakan intensitasnya dengan kehidupan fisik masing-masing individu. Oleh karena alasan ini, aktivitas tersebut secara kualitatif berbeda dengan kehidupan sehari-hari individu, seperti perbedaan antara superior dengan inferior, cita-cita dengan fakta. Pada saat pembiakan kolektif inilah dilahirkan cita-cita besar yang merupakan dasar peradaban.
            Jika manusia mampu menyusun cita-cita atau bisa juga tidak mampu menyusun tetapi terikat kepadanya, adalah karena manusia merupakan makhluk sosial. Masyarakat menggerakkan atau memotori individu agar bangkit mengangkat dirinya sendiri dan memberinya sarana untuk bisa mencapai hal ini. Melalui kesadarannya sendiri, masyarakat menggerakkan individu untuk mentransendensikan dirinya dan ambil bagian dalam kehidupan yang lebih tinggi. Masyarakat tdak dapat dibentuk tanpa membentuk cita-cita. cita-cita itu sendiri adalah suatu kekuatan dari alam dan karenanya dapat dikaji secara ilmiah.
            Cita-cita kolektif hanya dapat dimanifestasikan dan sadar akan dirinya sendiri jika dikonkretkan dalam obyek materiil yang dapat dilihat oleh setiap orang dan bisa ditunjukkan pada setiap pikiran. Dua benda pada adasarnya bisa saja berbeda berbeda atau dilihat dari sudut pandang tertentu tidak sama, tetapi jika mereka mewujudkan cita-cita yang sama maka mereka itu tampaknya sama. Dengan kata lain, masyarakat mensubstitusikan dunia yang ditampilkan oleh indra dengan dunia yang berbeda yang merupakan proyeksi cita-cita yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri.
            Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan hakikat. Pertimbangan nilai menunjukkan hubungan sesuatu dengan suatu cita-cita. Cita-cita—seperti halnya benda—adalah suatu realitas yang mempunyai eksistensi tersendiri, walaupun dalam tatanan yang berbeda. Hubungan yang ditunjukkan ini menyatukan dua persyaratan seperti yang berlaku dalam pertimbangan realitas. Jadi, unsur-unsur pertimbangan sama pada keduanya. Namun tidak berarti bahwa keduanya dapat direduksi satu sama lain; mereka serupa karena keduanya adalah produk dari kemampuan yang sama.
            Sosiologi positif dituduh hanya memuja fakta dan secara sistematis mengabaikan cita-cita. Dan tuduhan ini tidak benar. Fenomena sosial utama, agama, moralitas, hukum, ekonomi, dan estetika, semua itu tidak lebih dari sistem nilai dan karenanya sistem cita-cita. Sejak semula sosiologi bergerak dilapangan cita-cita. Sosiologi tidak menghimpun fakta untuk membangun cita-cita, tetapi sebaliknya, menerima mereka sebagai fakta yang ada, sebagai obyek studi, dan mencoba menganalisis dan menjelaskan. Maka tujuan sosiologi adalah membawa cita-cita, dalam berbagai bentuknya, ke lingkungan alam tanpa memasukkan atribut-atributnya yang khas. Masyarakat memang merupakan bagian dari alam dan ia kini mendominasi alam. Semua kekuatan semesta tidak hanya berkumpul dalam masyarakat, tetapi mereka juga membentuk sintesis baru yang jauh lebih kaya, lebih kompleks, dan lebih kuat daripada masing-masing kekuatan tersebut. Singkatnya, masyarakat adalah alam yang mencapai titik lebih tinggi dalam perkembangannya, dan memusatkan segala enerjinya untuk melampaui dirinya sendiri.

Simpulan: Sosiologi yang Menghidupkan Kembali Filsafat
Tulisan-tulisan yang terkumpul dalam buku ini mempunyai satu persamaan, sebab mereka memperlihatkan pandangan/pemikiran Durkheim, bukan hanya pandangannya tentang waktu masalah sosiologi tertentu tetapi juga mengenai masalah-masalah umum yang dihadapi para filsuf, yakni hubungan antara jiwa dengan materi, kesadaran dengan hakikat, nalar dengan perasaan. Tulisan-tulisan tersebut menunjukkan pada dalam hal apa dan sampai sejauh mana sosiologi bisa menghidupkan kembali filsafat.
Pandangan-pandangan Durkheim yang tertuang dalam tulisan dalam buku ini telah menunjukkan sejauh mana filsafat Durkheim berbeda dengan filsafat materialis dan organisis. Dalam artian ini, sosiologisme Durkheim terlihat lebih jauh lagi dan merupakan suatu usaha untuk menemukan dan membenarkan—dengan cara baru—kecenderungan-kecenderungan spiritialisme.

LPJ BOS SMK Tahun Anggaran 2020

LPJ BOS SMK Tahun Anggaran 2020 User via SMS :  0857 5954 7892 FB :  https://web.facebook.com/iwan.kurniawanb Twitte...